BMP @ Tanggap darurat letusan Gunung Merapi

Latar Belakang
Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2980 meter dari permukaan laut dan merupakan gunung yang paling akfif dari sejumlah 129 gunung api  yang digolongkan aktif di Indonesia. Terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.
Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (BVMB) meningkatkan Status kegiatan Gunung Merapi dari Normal menjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga pada 21 Oktober 2010 dan menjadi Awas pada tanggal 25 Oktober 2010.
Pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010  pukul 18.10 wib terjadi erupsi yang menyebabkan setidaknya 25 meninggal dunia dan ribuan penduduk mengungsi.
Ditempat pengungsian sementara (TPS) para pengungsi menempati barak-barak yang telah disediakan dengan kondisi seadanya.
Berdasarkan hasil assesment yang dilakukan dibeberapa barak pengungsian, dengan menggunakan standart sphere  dalam pemenuhan  hak dasar para korban letusan gunung Merapi, utamanya dukungan shelter, air bersih sanitasi, dan kebutuhan spesifik kaum rentan, didapati gap antara kebutuhan dan ketersediaan.
Belum maksimalnya koordinasi antara  Instansi Pemerintah, lembaga kemanusiaan, masyarakat dan pihak terkait lain dapat mengakibatkan terabaikannya  hak-hak dasar pengungsi korban letusan gunung Merapi.
Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin memburuk seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik gunung Merapi.
Memperhatikan situasi tersebut, BMP berencana melakukan kegiatan sebagai berikut :
1. Promosi Kesehatan
Berdasarkan assessment yang dilakukan di pusat-pusat pengungsian terjadi permasahan sebagai berikut :
a. Kurangnya pasokan air.
b. Kurangnya jumlah latrine yang mengkibatkan panjangnya antrian dan terjadinya buang air besar ditempat terbuka.
c. Tidak terpeliharanya fasilitas Toilet umum yang tersedia.
d. Terjadi sumbatan disaluran-saluran pembuangan air
e. Sampah berserakan dimana-mana
f. Kurangnya partisipasi masyarakat pengungsi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan merawat fasilitas air bersih dan sanitasi.
Objectives
• Mengurangi resiko / kasus penyakit yang disebabkan oleh buruknya kondisi air dan sanitasi.
• Melakukan managemen siklus projek bersama masyarakat dari sejak penjajakan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sebagai proses pembelajaran
• Memastikan terjadinya transfer pengetahuan pada sarana air bersih dan sanitasi kepada masyarakat dan stake holder dan mitra kerja.
Aktifitas yang akan dilakukan
• Penjajakan masalah Sanitasi dan menejemen pengelolaan sampah di target lokasi
• Mesosialisasikan projek kepada masyarakat di tingkat barak
• Promosi kesehatan : 3 pesan kunci ; cuci tangan pakai sabun, buang sampah pada tempatnya dan BAB ditempatnya.
• Distribusi higiene kit, cleaning kit, jerrycan, poster, penyediaan hidran umum
• Mengorganisasi dan memobilisasi masyarakat dalam perawatan sarana air bersih dan sanitasi.
• Memonitor dan mengevaluasi kegiatan perawatan sarana air bersih dan sanitasi dengan melibatkan masyarakat secara partisipatip
• Melakukan koordinasi di lapangan dengan berbagai aktor termasuk Pemerintah, NGO, INGO, Palang Merah dan aktor potensial yang lain
• Membuat laporan secara regular pada pencapaian projek dan perencanaan.
• Memonitoring angka kesakitan/angka kematian terkait buruknya sanitasi dan air.
• Distribusi 6 macam pesan IEC materials @250 lembar saat promosi kesehatan.
• Menggunakan 50 lembar permainan berupa puzzle untuk anak-anak penyintas.
Indikator
a. Promosi kesehatan mampu memperbaiki kondisi kebersihan lingkungan di tempat pengungsian.
b. Promosi kesehatan mampu menggerakkan kolektifitas masyarakat dalam menjaga lingkungan barak pengungsian.
c. Anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan promosi kesehatan.
2. Advokasi – Wash Cluster
Selain itu, BMP juga melihat perlunya diberikan perhatian khusus kepada mekanisme koordinasi yang terjadi dalam forum PRB. Oleh karena itu, BMP akan mengutus seorang staff untuk terlibat dalam Forum PRB, terutama WASH Cluster, sehingga koordinasi dalam gugus tugas dapat dimaksimalkan.
• Target beneficiaries dan area untuk kegiatan ini adalah sesama pekerja humanitarian di Forum PRB terutama dalam WAS Cluster.
• Durasi kegiatan akan mengcover selama masa tanggap darurat dari tanggal 01 Nopember – 01 Desember 2010.
• Dari akhir keterlibatan staff BMP dalam aktifitas WASH Cluster, akan disampaikan satu laporan narasi yang berisi tentang proses, tantangan, capaian dan rekomendasi untuk kegiatan advikasi cluster dikemudian hari.

Latar Belakang

Gunung Merapi merupakan gunung api tipe strato, dengan ketinggian 2980 meter dari permukaan laut dan merupakan gunung yang paling akfif dari sejumlah 129 gunung api  yang digolongkan aktif di Indonesia.

Terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (BVMB) meningkatkan Status kegiatan Gunung Merapi dari Normal menjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga pada 21 Oktober 2010 dan menjadi Awas pada tanggal 25 Oktober 2010.

Pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010  pukul 18.10 wib terjadi erupsi yang menyebabkan setidaknya 25 meninggal dunia dan ribuan penduduk mengungsi.

Ditempat pengungsian sementara (TPS) para pengungsi menempati barak-barak yang telah disediakan dengan kondisi seadanya.

Berdasarkan hasil assesment yang dilakukan dibeberapa barak pengungsian, dengan menggunakan standart sphere  dalam pemenuhan  hak dasar para korban letusan gunung Merapi, utamanya dukungan shelter, air bersih sanitasi, dan kebutuhan spesifik kaum rentan, didapati gap antara kebutuhan dan ketersediaan.

Belum maksimalnya koordinasi antara  Instansi Pemerintah, lembaga kemanusiaan, masyarakat dan pihak terkait lain dapat mengakibatkan terabaikannya  hak-hak dasar pengungsi korban letusan gunung Merapi.

Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin memburuk seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik gunung Merapi.

Memperhatikan situasi tersebut, BMP berencana melakukan kegiatan sebagai berikut :

1. Promosi Kesehatan

Berdasarkan assessment yang dilakukan di pusat-pusat pengungsian terjadi permasahan sebagai berikut :

a. Kurangnya pasokan air.

b. Kurangnya jumlah latrine yang mengkibatkan panjangnya antrian dan terjadinya buang air besar ditempat terbuka.

c. Tidak terpeliharanya fasilitas Toilet umum yang tersedia.

d. Terjadi sumbatan disaluran-saluran pembuangan air

e. Sampah berserakan dimana-mana

f. Kurangnya partisipasi masyarakat pengungsi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan merawat fasilitas air bersih dan sanitasi.

Objectives

• Mengurangi resiko / kasus penyakit yang disebabkan oleh buruknya kondisi air dan sanitasi.

• Melakukan managemen siklus projek bersama masyarakat dari sejak penjajakan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sebagai proses pembelajaran

• Memastikan terjadinya transfer pengetahuan pada sarana air bersih dan sanitasi kepada masyarakat dan stake holder dan mitra kerja.

Aktifitas yang akan dilakukan

• Penjajakan masalah Sanitasi dan menejemen pengelolaan sampah di target lokasi

• Mesosialisasikan projek kepada masyarakat di tingkat barak

• Promosi kesehatan : 3 pesan kunci ; cuci tangan pakai sabun, buang sampah pada tempatnya dan BAB ditempatnya.

• Distribusi higiene kit, cleaning kit, jerrycan, poster, penyediaan hidran umum

• Mengorganisasi dan memobilisasi masyarakat dalam perawatan sarana air bersih dan sanitasi.

• Memonitor dan mengevaluasi kegiatan perawatan sarana air bersih dan sanitasi dengan melibatkan masyarakat secara partisipatip

• Melakukan koordinasi di lapangan dengan berbagai aktor termasuk Pemerintah, NGO, INGO, Palang Merah dan aktor potensial yang lain

• Membuat laporan secara regular pada pencapaian projek dan perencanaan.

• Memonitoring angka kesakitan/angka kematian terkait buruknya sanitasi dan air.

• Distribusi 6 macam pesan IEC materials @250 lembar saat promosi kesehatan.

• Menggunakan 50 lembar permainan berupa puzzle untuk anak-anak penyintas.

Indikator

a. Promosi kesehatan mampu memperbaiki kondisi kebersihan lingkungan di tempat pengungsian.

b. Promosi kesehatan mampu menggerakkan kolektifitas masyarakat dalam menjaga lingkungan barak pengungsian.

c. Anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan promosi kesehatan.

2. Advokasi – Wash Cluster

Selain itu, BMP juga melihat perlunya diberikan perhatian khusus kepada mekanisme koordinasi yang terjadi dalam forum PRB. Oleh karena itu, BMP akan mengutus seorang staff untuk terlibat dalam Forum PRB, terutama WASH Cluster, sehingga koordinasi dalam gugus tugas dapat dimaksimalkan.

• Target beneficiaries dan area untuk kegiatan ini adalah sesama pekerja humanitarian di Forum PRB terutama dalam WAS Cluster.

• Durasi kegiatan akan mengcover selama masa tanggap darurat dari tanggal 01 Nopember – 01 Desember 2010.

BMP01112010, msh

Posted in
BMPJKT

BMPJKT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »