PENGETAHUAN UMUM TENTANG KEBENCANAAN PADA GURU-GURU SEKOLAH DI MANADO

Sebanyak 101 orang guru SD-SMP-SMA dari 106 orang peserta acara “Sosialisasi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana pada Sektor Pendidikan” pada Kamis siang (17/3) di Ruang Aula Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado tidak tahu tentang kedasyatan bencana meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815 di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 101 orang itu pada umumnya menjawab bahwa letusan Gunung Krakatau adalah yang paling hebat dampaknya bagi Indonesia dan dunia.

Letusan G. Krakatau masih kalah jauh dampaknya dari letusan G. Tambora. Dampak dari letusan G. Tambora adalah tewasnya ratusan ribu jiwa, abu vulkanik yang dikeluarkannya menutupi cahaya matahari selama berbulan-bulan yang dampaknya mencapai benua Asia, Eropa, Australia sehingga tidak ada musim panas pada waktu itu. Dampak ikutan dari letusan G. Tambora antara lain gagalnya panen gandum dan tanaman pertanian lainnya di Eropa yang kemudian menyebabkan wabah kelaparan dan penyakit serta selanjutnya banyak orang Eropa bermigrasi ke Amerika Serikat untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dampak lain letusan adalah menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte dalam pertempuran Waterloo melawan Inggris dan Prussia karena iklim menjadi ekstrim buruk sehingga pergerakan pasukan Napoleon jadi sangat terhambat.

Acara “Sosialisasi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana pada Sektor Pendidikan” ini dihadiri oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdiklat BNPB), Muchtaruddin; Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Giyarto; Sekretaris Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara, JSJ Wowor MSi.; Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB), Riana Nedyawati dan Wahyu Sulastomo; United Nation Development Programme (UNDP), Valentinus Irawan; serta lebih dari 106 orang guru SD-SMP-SMA, kepala sekolah dan pengawas sekolah di Kota Manado dan sekitarnya. Kegiatan sosialisasi ini juga dalam kerangka mensukseskan perhelatan besar ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiREx) pada tanggal 14 – 19 Maret 2011 di Manado, Sulawesi Utara

Dalam acara itu Valentinus Irawan berperan sebagai fasilitator dan pemberi materi “Analisis Risiko Bencana”. Model fasilitasi Irawan sangat berbeda dari biasanya, yaitu dengan cara melakukan dialog dengan peserta, kuis dengan doorprize bagi para pemenangnya serta pemutaran film bencana. Para peserta menjadi tertarik dan terlibat dalam pemaparan ini.

Kuis pertama adalah mengenai letusan gunung di abad XIX. Pertanyaannya adalah: “Mana dari letusan gunung ini yang paling besar dampaknya bagi Indonesia dan dunia: (a) Tahun 1815 letusan G. Tambora di NTB, (b) Tahun 1872 letusan G. Merapi di Jawa Tengah, dan (c) Tahun 1883 letusan G. Krakatau di Selat Sunda?” Hanya 5 orang peserta yang menjawab benar, yaitu letusan G. Tambora, sedangkan 101 orang peserta lainnya menjawab salah. Dari 5 orang yang menjawab benar itu kemudian diundi dan salah seorang yang terpilih mendapatkan doorprize kaos ARF DiREx 2011.

Irawan menjelaskan mengenai teori pengurangan risiko bencana (PRB). Risiko bencana terjadi karena adanya ancaman (hazard) bertemu dengan kerentanan serta dikurangi dengan kapasitas. Ini artinya risiko bencana akan semakin besar bila ada ancaman dan kerentanan, tapi risiko bencana itu dapat dikurangi intensitasnya dengan cara meningkatkan kemampuan dan mengurangi kerentanan yang ada serta menghilangkan atau meminimalkan ancaman.

Untuk mengetes pemahaman mengenai risiko bencana itu Irawan kemudian membuat sebuah kuis lagi. Kali ini pertanyaannya adalah: “Apakah hal-hal berikut ini termasuk bencana: banjir, longsor, rob, erosi, abrasi pantai, perubahan iklim?” Sebagian besar peserta menjawab bahwa hal-hal itu semua adalah bencana, dan sebagian kecil menjawab beberapa diantaranya adalah bencana sedangkan yang lain (seperti erosi) bukan bencana.

Akan tetapi menurut Irawan semua hal di atas bukanlah bencana tapi baru gejala atau fenomena alam saja. Hal-hal itu baru disebut bencana bila kejadian-kejadian itu memberi dampak kepada manusia. Misalkan saja kejadian banjir yang terjadi di suatu daerah terpencil dan tidak berpenghuni maka itu termasuk gejala alam, tapi bila kejadian banjir itu berdampak kepada manusia maka itu termasuk bencana. Ada satu faktor penting suatu kejadian alam disebut bencana, yaitu adanya manusia yang menjadi korban di dalamnya; korban ini bisa terkait langsung (mis: luka atau tewas), tapi bisa juga tidak terkait tidak langsung (mis: sawah tergenang).

Pada sesi selanjutnya Irawan memutar “Film Tsunami” buatan Direktorat Jenderal KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan. Film ini dengan bagus menggambarkan ancaman bencana gempa bumi dan tsunami yang ditimbulkannya, penggambaran tsunami Aceh 2004 begitu mencekam akan kedasyatan efek dan dampak tsunami yang benar-benar menghantam suatu daratan. Selain itu ada animasi untuk pembelajaran mengenai kesiapsiagaan terhadap bencana tsunami.

Setelah pemutaran film ini kemudian Irawan membuat sebuah kuis terakhir dengan pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu “Dari bahasa apa kata ‘tsunami’ itu? Kembali semua peserta menuliskan jawabannya pada secarik kertas dan dikumpulkan kepada fasilitator. Dari 106 orang peserta ternyata 70 orang menjawab dengan benar, yaitu kata ‘tsunami’ berasal dari bahasa Jepang; 36 orang salah menjawab, bahkan ada yang menjawab bahwa kata ‘tsunami’ berasal dari bahasa Latin dan Yunani.

Dari ketiga kuis kecil di atas dapat memberi gambaran secara umum, walaupun gambaran ini tidaklah dapat digeneralisasikan, mengenai tingkat pengetahuan kebencanaan guru-guru SD-SMP-SMA di Manado. Dengan demikian tampaknya perlu banyak sosialisasi dan penyadartahuan mengenai konsep-konsep dasar penanggulangan bencana dan pengetahuan umum kebencanaan kepada para guru, baik di tingkat SD, SMP maupun SMA di Manado khususnya dan Sulawesi Utara pada umumnya.

Sumber :Pusdatinhumas

http://bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=338

Posted in
BMPJKT

BMPJKT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »