PEMBUKAAN ARF DIREX DIHADIRI OLEH 3.500 PESERTA

ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiREx) dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Boediono. di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (15/3). ARF DiREx 2011 adalah forum latihan penanggulangan bencana se-ASEAN dengan diikuti oleh 20 negara yang berlangsung pada tanggal 14 – 19 Maret 2011. Acara pembukaan ARF DiREx ini dihadiri lebih dari 3.500 orang. Jumlah ini terdiri atas 900 orang perwakilan multinasional dan 2.600 orang perwakilan dari tuan rumah Indonesia.

Sebelumnya, jumlah terbanyak yang terdaftar adalah Jepang sekitar 500 orang. Namun, karena terjadinya bencana tsunami di Jepang pada tanggal 11 Maret 2011 lalu maka sebagian besar dari mereka ditarik kembali ke Jepang untuk menangani korban tsunami. Hanya 50 orang tenaga ahli asal Jepang tetap bertahan demi kelangsungan acara pelatihan bersama ini. Negara lain yang tidak jadi ikut kegiatan ini adalah Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan karena menangani bencana gempa dan tsunami di Jepang.

Ada 20 negara yang ikut dalam ARF DiREx dari 27 negara yang direncanakan ikut serta, utamanya adalah 10 negara yang termasuk negara-negara ASEAN. Ke 20 negara yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, antara lain Australia, India, Rusia, Canada, Jepang, New Zealand, Uni Eropa dan Cina termasuk Negara-negara Forum Asean plus seperti Bangladesh, Philipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Kamboja, Papua New Guinea, Timor Leste, Sri Langka, Mongolia, Brunei dan Laos serta Indonesia sebagai tuan rumah.

Ada sangat banyak peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan ARF DiREx 2011 ini. India mengirimkan sebuah kapal evakuasi bencana. Peserta dari Uni Eropa membangun satu rumah sakit lapangan beserta peralatan USAR. sedangkan China, menyediakan peralatan medis. Singapura juga menyediakan satu peralatan USAR.

Sebagai tuan rumah, Indonesia dengan jumlah personel terbanyak yang direkrut dari berbagai instansi/lembaga terkait. Indonesia juga mengerahkan rumah sakit lapangan dengan dukungan peralatan medis dan obat-obatan, kendaraan taktis komando, dan angkutan perbekalan. Tak hanya itu, pesawat angkut, seperti Hercules C-130, Cassa C- 212, serta Helly 332, tiga kapal perang Indonesia (KRI), Combat Boat, Hover Craft, peralatan SAR, serta komunikasi elektronik juga dihadirkan.

Semula Jepang menyediakan kapan LST OHSUMI, tapi karena terjadi gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret 2011 lalu maka kapal itu ditarik kembali untuk membantu korban tsunami. Berhubung Amerika Serikat dan Korea Selatan tidak jadi ikut kegiatan ini maka semua peralatan yang direncanakan diarahkan untuk ikut membantu menangani pasca gempa dan tsunami di Jepang.

Tujuan utama penyelenggaraan ARF DiREx adalah menghasilkan penanganan bencana yang terkoordinasi. Tidak hanya itu, latihan ini juga diharapkan mampu menghasilkan aturan penanganan bencana yang bisa diaplikasikan dalam masyarakat ketika bencana terjadi. ARF DiREx ini menjadi gambaran keseriusan pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Latihan kesiapsiagaan bencana ini menjadi bentuk kehadiran negara untuk mampu mengurangi jumlah korban dan kerugian jika bencana terjadi.

Bagi Indonesia ARF DiREx ini berdampak  pada dimensi kepentingan nasional dan sekaligus regional ataupun internasional. Pada tataran nasional, latihan dapat dimanfaatkan  untuk menguji atau menyiapkan sistem kesiapan dan mekanisme nasional penanganan suatu bencana yang melibatkan bantuan asing. Sedangkan pada tataran regional adalah untuk merekomendasikan dan masukan  strategis bagi kerjasama ARF dan ASEAN dalam penanggulangan bencana di kawasan.

Kegiatan ARF DiREx ini nantinya akan dibagi menjadi dua kegiatan yaitu, kegiatan pelatihan di dalam ruangan dan pelatihan langsung di luar ruangan. Kegiatan difokuskan pada beberapa aktivitas, diantaranya koordinasi di posko penanggulangan bencana, kemampuan kegiatan SAR, evakuasi dan identifikasi korban, perawatan medis dan relokasi para korban dan mekanisme pendistribusian bantuan sosial.

Lokasi pelatihan di lapangan akan diselenggarakan di pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage, Pesisir desa Masing, Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa, Bandara Samratulangi, dan Pelabuhan Bitung.

Acara pembukaan ini dihadiri oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro; Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaninghsih; Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring; Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono; Menteri Sosial, Salim Segaf; Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata; dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),  Dr. Syamsul Maarif, SiP, M.Si.; Gubernur Sulawesi Utara, Dr. SH Sarundajang; Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Makiko Kikuta; serta sejumlah perwakilan negara sahabat; juga wakil-wakil dari pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota di Sulawesi Utara, lembaga-lembaga non pemerintah, pelajar, dan wakil negara-negara sahabat. Setelah pembukaan kemudian dilanjutkan dengan peragaan respon tanggap darurat atas bencana gempa dan tsunami yang melibatkan sumber daya pemerintah daerah Sulawesi Utara (baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota), kementerian/lembaga dan negara-negara sahabat serta lembaga terkait seperti PMI.

Sumber :Pusdatinhumas

http://bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=322

Posted in ,
BMPJKT

BMPJKT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »